RIB Gelar Diskusi Publik Arah Baru Politik Islam Modern

RIB Gelar Diskusi Publik Arah Baru Politik Islam Modern

121
0
BERBAGI

Indoxpost, Jakarta — Relawan yang tergabung dalam Rumah Indonesia Berkemajuan (RIB) menggelar diskusi publik bertema “Arah Baru Politik Islam Modern” bertempat di sebuah Kafe Matraman Jakarta Timur, Kamis Siang, (24/01/2019).

Hadir sebagai narasumber M. Khoirul Muttaqin (Ketua Umum Rumah Indonesia Berkemajuan/Aktivis Muda Muhammadiyah), Pradana Boy ZTF, Ph.D (Ketua Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM) dan Arif Nurul Iman (Analis Politik IndoStrategi). Dengan jumlah peserta sekitar dua ratusan orang, diskusi nampak semarak.

Relawan Indonesia Berkemajuan (RIB) merupakan organ relawan yang terdiri dari para alumni Angkatan Muda Muhammadiyah di tingkat pusat dan telah mendeklarasikan diri mendukung pasangan Capres Cawapres 01 Jokowi-KMA.

ISLAM dan politik, dua kata secara prinsip berbeda. Islam adalah tuntunan seluruh aspek kehidupan manusia, sedangkan politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Maka dapat disimpulkan bahwa Islam dan politik adalah bagaimana tuntunan agama agar dapat mengatur kekuasaan dalam bernegara.

M. Khoirul Muttaqin sebagai pembicara pertama mengatakan ; bahwa “politik merupakan alat untuk memperjuangkan nilai-nilai, maka cara yang digunakan untuk memperoleh dan mengatur kekuasaan harus menjunjung tinggi nilai keadaban.

Khoirul menambahkan dalam kontestasi seperti pilpres yang menguras banyak energi dan emosi, Timses maupun masyarakat harus dibangun narasi kampanye yang ceria, mencerdaskan, kreatif, sopan dan beradab.” ujarnya.

Sementara itu Arif Nurul Iman sebagai pembicara kedua menyampaikan ; “Arus islam modern saat ini masih sekedar aktual tapi belum potensial, arus islam moderat harus memenuhi ruang-ruang publik dengan narasi-narasi modern yang selama ini justru didominasi oleh konten-konten arus konservatif. Karena itu, Islam modern perlu masuk dalam ruang wacana.” tuturnya.

“Arus islam modern saat ini masih sekedar aktual tapi belum potensial, arus islam moderat harus memenuhi ruang-ruang narasi publik yang selama ini masih di dominasi oleh konten-konten arus konservatif. Kekosongan inilah yang seharusnya diisi kelompok Islam moderat yang Agak dilupakan.” imbuh Nurul.

Pradana Boy sebagai pembicara ketiga melihat situasi yang berkembang dalam politik Indonesia saat ini, merupakan “rejuvenasi’ hubungan Islam dan negara pada masa awal Orde Baru. Rujevenasi di sini bisa diartikan sebagai pengulangan dalam wujud yang berbeda atas sesuatu yang sama.

“Pada masa awal Orde Baru hubungan Islam dan negara bersifat antagonistik. Antagonisme itu dipicu oleh persoalan representasi politik, ketidakadilan hukum, marjinalisasi umat Islam oleh rezim, masalah akomodasi terhadap kelompok minoritas, dan moralitas publik.” katanya.

Boy menambahkan ;Hal yang sama, sekarang ini mengemuka. Kelompok Islam menggunakan isu-isu di atas untuk menyerang Pemerintah.

“Tidak hanya bersikap anti-pemerintah, kondisi ini juga melahirkan sikap antagonis dalam berpolitik, sehingga penegakan keadaban politik menjadi terhalang. Maka, tantangan terbesar kelompok Islam modernis adalah melakukan artikulasi politik yang elok, elegan dan moralis, sehingga banalitas (ketidak-elokan) politik yang saat ini menggejala bisa diatasi.” pungkas Boy. (fri)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY